Articles by "Pendidikan"

2/17/2018 ,
Program donasi buku Kemendikbud dan PT Pos Indonesia dinilai dapat memperkuat mempermudah pencapaian program literasi dan peningkatan minat baca buku bagi masyarakat. Foto/Ilustrasi
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Ditjen PAUD dan Dikmas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menjalin kerja sama dengan PT Pos Indonesia dalam program donasi buku.

Melalui program tersebut, buku-buku disebarkan ke seluruh pelosok Nusantara. "Kerja sama ini memperkuat dan mempermudah pencapaian program literasi dan peningkatan minat baca buku bagi masyarakat, khususnya yang berada di pelosok tak terjangkau," ungkap Direktur Jenderal PAUD dan Dikmas Kemendikbud, Harris Iskandar di sela-sela Oameran Pendidikan dan Kebudayaan bertajuk Unjuk Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Pusdiklat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Sawangan, Depok, Jawa Barat, Selasa (6/2/2018).

Seperti diketahui, Ditjen PAUD dan Dikmas setiap tanggal 17 bekerja sama dengan PT Pos Indonesia menggelar program donasi buku, mengumpulkan dan menyebarkan buku-buku ke pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), taman bacaan masyarakat, PAUD yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Kami merasa terpanggil dan terhormat diajak untuk menyebarkan buku ke pihak yang membutuhkan. Ini juga sebagai bagian visi PT Pos Indonesia dalam meningkatkan layanan serta mencerdaskan anak bangsa," ujar Direktur Utama PT Pos Indonesia, Gilarsi W Setijono. 

Pertemuan Ditjen PAUD dan Dikmas dengan Direktur PT Pos Indonesia ini saat mengunjungi stand pameran yang pendidikan dalam rangka Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2018 di Pusdiklat Kemendikbud, yang berlangsung selama empat hari, 5-8 Februari.


Sumber : SindoNews.com

2/17/2018 ,
Ilustrasi Biaya Pendidikan (Liputan6.com/Andri Wiranuari)

Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA Australia/ PPIA) menginisasi sebuah program bantuan sosial guna mendorong kemajuan pendidikan di kawasan Timur Indonesia. Program ini telah diluncurkan pada bulan Januari 2018.

Program yang bertajuk “Improving Papua and East Nusa Tenggara’ Education” atau disingkat IMPACT ini, digagas sebagai bentuk kepedulian, upaya, serta partipasi aktif kalangan pelajar Indonesia di seluruh Australia.

"Melalui program ini, PPIA menyasar untuk turut serta dalam pengembangan sepuluh taman baca di beberapa lokasi di Papua dan NTT," kata Charity Manager of Indonesian Student Association of Australia (PPI Australia) Herfi Qurrota Hanina dalam keterangannya, Rabu (7/2/2018).

Dia menambahkan, pemberian bantuan tersebut berupa perlengkapan, peralatan, serta buku-buku penunjang kegiatan belajar kepada 400 anak di NTT dan Papua. Bantuan tersebut direncanakan akan disampaikan kepada penerima manfaat pada April 2018.

"Kawasan Indonesia Timur dipilih sebagai sasaran program karena kedua wilayah ini masih berada dalam kategori daerah tertinggal di Indonesia, meski memiliki potensi alam yang melimpah," kata dia.

Menurut data Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), sebanyak 103 dari 122 kabupaten yang masuk kategori daerah tertinggal berada di wilayah Indonesia Timur. Di antara provinsi-provinsi di wilayah tersebut, Papua dan NTT merupakan dua provinsi dengan daerah tertinggal paling banyak.

Di samping itu, data BPS pada tahun 2016 juga menunjukkan angka kemiskinan yang tinggi di kedua provinsi tersebut, yaitu 28,54 persen dari jumlah penduduk di Papua dan 22,19 persen di NTT.

"PPIA percaya bahwa pendidikan, sebagai salah satu pilar utama dalam pembangunan, merupakan jalan keluar utama dalam memutus rantai kemiskinan," tegas dia.


Bidang Pendidikan

Ilustrasi pendidikan. Foto: via everydayfeminism.com

Selain itu juga dapat menjadi sarana untuk melahirkan individu-individu berdaya saing tinggi yang kelak dapat menjadi pemimpin hebat Indonesia di masa mendatang.

"Melalui program bantuan sosial ini, PPIA menggarisbawahi bahwa penguatan upaya-upaya di bidang pendidikan di daerah-daerah terpencil khususnya di kawasan timur Indonesia, merupakan tanggung jawab seluruh warga negara Indonesia," ucap wanita biasa disapa Nina itu.

Sehubungan dengan hal itu, PPIA telah meluncurkan laman penggalangan dana dari publik melalui laman web Kitabisa.com. PPIA mengundang kepada seluruh kalangan masyarakat yang sekitarnya memiliki kepedulian serta keyakinan terhadap kemajuan pembangunan di Indonesia Timur untuk turut berpartisipasi dengan menyebarkan informasi mengenai kegiatan ini maupun dengan cara berdonasi.

"Selain itu, PPIA juga menyambut baik dukungan kalangan dunia usaha yang ingin berpartisipasi aktif dalam mensukseskan kegiatan sosial ini," Nina menandaskan.


Sumber : Liputan6.com

2/16/2018 ,
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mohammad Mahfud M.D pada diskusi Pancasila di Zamanku yang diselenggarakan di Yogyakarta, Sabtu (3/2/2018). (Dok Djarum Foundation)

Pancasila merupakan pijakan paling utama dalam semua aspek kehidupan bermasyarakat. Terjaganya persatuan bangsa Indonesia hanya bisa terwujud selama Pancasila masih menjadi landasannya.

Demikian diungkapkan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mohammad Mahfud M.D dalam siaran pers diskusi "Pancasila di Zamanku" yang diselenggarakan oleh Bakti Pendidikan Djarum Foundation bekerjasama dengan Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta dan Solidaritas Anak Bangsa (Sabang), di Yogyakarta, Sabtu (3/2/2018).




"Pancasila menjadi kesadaran filsafat hukum dan sumber kesadaran berbangsa dan bernegara, Pancasila itu ideologi yang mempersatukan," ujar Profesor Hukum Tata Negara di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini.

Menurut dia, di tengah era keterbukaan informasi seperti saat ini bahaya radikalisme dan perpecahan terus mengintai generasi muda Indonesia. Minimnya pemahaman terhadap Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara, lanjut Mahfud, membuat anak muda rentan dipecah belah.

"Oleh karena itu, nilai-nilai kearifan Pancasila dipandang perlu dibumikan kembali di tengah-tengah kaum muda untuk menguatkan semangat persatuan," tambahnya.

Dialog yang dipandu wartawan senior Rosianna Silalahi tersebut diikuti tak kurang dari 1.500 mahasiswa dari delapan perguruan tinggi di Yogyakarta. Pembicara lain yang hadir adalah pemerhati sosial dan pegiat di Wahid Institute Inayah Wulandari Wahid serta vokalis band Kotak Tantri Syalindri Ichlasari atau Tantri Kotak.

Mahfud lebih lanjut juga mengingatkan kembali tentang potensi perpecahan jika generasi muda saat ini tidak lagi merefleksikan Pancasila dalam kehidupan bersosialisasi mereka sehari-hari.

"Itu (radikalisme) harus ditangkal dengan Pancasila sebagai ideologi pemersatu ikatan kita sebagai bangsa Indonesia," kata Mahfud.

Hal senada juga diucapkan Inayah Wahid. Putri bungsu Presiden Indonesia ke empat KH. Abdurrahman Wahid ini mengatakan Pancasila adalah intisari dari semua nilai-nilai kearifan yang bersifat universal sehingga sampai kapan tidak akan ketinggalan zaman, termasuk di tengah generasi milenial sekarang ini.

"Selama ada manusia dan ada kemanusiaan, Pancasila akan selalu relevan, karena Pancasila selalu bersumber dari nilai-nilai kebaikan universal sehingga akan selalu sejalan dengan agama apa pun," ujar Inayah.

Dari kalangan anak muda dan artis, Tantri Kotak mengaku melihat minimnya pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila saat ini bisa membuat generasi muda semakin individualistis dan dan tidak mempunyai pegangan di tengah arus informasi global.

Oleh karena itu Tantri mengajak anak-anak muda agar terus berkarya dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila di kehidupan mereka.

"Agar semangat nasionalisme kita jangan mudah goyah," kata Tantri.


Sumber : KOMPAS.com

2/16/2018 , ,
Ilustrasi (Shutterstock)

Anda sudah mulai mudah lupa? Atau kesulitan me re-call poin-poin penting dalam rapat? atau diminta istri beli diapers yang terbeli malah pembalut?

Sama, saya juga pernah mengalaminya. Tapi ternyata ada cara gampang untuk mengurangi kebiasaan lupa ini.

Dua puluhan tahun yang lalu, ketika saya masih belajar di TPA (taman pendidikan Al-Quran) di masjid kampung, saya diam-diam berkompetisi dengan teman saya. Namanya sebut saja si Rus. Rus ini hafalan suratnya selalu lebih banyak dari saya. Saya baru hafal satu surah, dia sudah dua. Saya lalu tidak pernah bisa mengejarnya meski saya pikir saya sudah berusaha keras. 

Saya termasuk orang yang lebih senang membaca daripada berhitung waktu sekolah. Namun meski demikian kalau soal menghafal, sudah pasti si Rus lebih hebat dari saya dalam hal ini.

Mungkin memang otaknya lebih encer, begitu pikir saya waktu itu.  Pernah suatu kali ada ujian mata pelajaran kimia. Saya belajar semalam suntuk menghafal tabel periodik unsur. Pas ujian, blank! yang saya ingat gambar kapal (karena tabelnya saya corat-coret jadi kapal). Jeblok nilai Kimia saya.

Hal yang sama bisa terjadi saat kita mempersiapkan diri untuk presentasi atau wawancara kerja. Sudah mempersiapkan diri berhari-hari tapi sepertinya apa yang masuk di kepala tiba-tiba lepas hilang entah kemana.

Memang ada banyak teknik untuk meningkatkan daya ingat, menghafal. Misalnya metode Loci, yaitu menempatkan hal-hal yang ingin kita ingat pada tempat-tempat yang familier, misalnya rumah kita sendiri.

Metode lainnya adalah chungking ketika kita mengingat deret angka, misalnya sampai 9 deret. Lebih mudah mengingatnya dengan memecahnya menjadi 3 deret masing-masing 3 angka seperti kita menuliskan nomor handphone. Masih banyak metode-metode lain yang canggih.

Tapi ada satu metode yang kelihatannya sepele, sangat mudah diaplikasikan, dan yang paling penting sudah terbukti meningkatkan daya ingat dan kemampuan belajar. Setidaknya menurut para peneliti memori di Departement of Psychology,  University of Waterloo, Kanada.

Hasil penelitian ini berjudul ”This time it’s personal: the memory benefit of hearing oneself" yang terbit Desember 2017 di jurnal "Memory" oleh Noah D. Forrin dan Colin M. Mcleod.

Metode ini sekali lagi saya kasih tahu sangat..sangat mudah, bagaimana caranya? Ketika ingin belajar sesuatu atau mengingat sesuatu. Tuliskan lalu bacalah keras-keras tapi jelas. Nggak perlu terlalu keras juga sih, yang penting kita dengar suara kita sendiri dan lakukan berulang-ulang sesuka kita. Lalu? Sudah. Sudah? Iya sudah gitu aja. Gampang kan?

Metode untuk meningkatkan kemampuan memori ini diteliti bermula dari istilah psikologi memori "production effect". Apa itu? Memori dalam otak kita ibaratnya seperti gudang data, ada memori jangka pendek, data yang disimpan dekat dengan pintu gudang, lebih mudah diambil, tapi dibuang dalam jangka pendek.

Ada memori jangka panjang, data yang disimpan agak ke dalam, lebih jauh dari pintu gudang tapi lebih tahan lama. Dalam hal ini ketika kita mendapatkan informasi baru dan ingin mengingatnya, kemampuan memori untuk menyimpannya dipengaruhi oleh informasi-informasi lain yang bertebaran memasuki indera kita.

Bisa jadi kita langsung lupa karena informasi yang lebih baru langsung menghapus informasi sebelumnya sebelum sempat masuk dalam memori jangka panjang. Begitu seterusnya.

Nah, untuk mencegah hilangnya informasi baru, perlu dilakukan suatu upaya "belajar". Peneliti psikologi memori menyebutnya "production effect". Yaitu ketika otak memproduksi upaya belajar baru dari informasi yang baru saja diterima, bukan saja hal ini mencegah informasi lain menghapusnya, tapi juga memperkuatnya untuk masuk dalam memori jangka panjang.

Ibaratnya, efek ini tali yang akan mencegah informasi  keluar dari gudang data. Apa contoh "production effect" ini? Misalnya mencatat, mendengarnya berulang-ulang, atau menyanyikannya. Atau menggabungkan diantaranya, dicatat lalu dibaca sendiri keras-keras berulang-ulang, semakin sering semakin bagus.

Forrin dan McLeod membandingkan efektivitas mengingat dari empat kelompok subyek penelitian yaitu :  (1) Membaca dalam hati, (2) mendengarkan orang lain membacakan, (3) mendengarkan rekaman bacaan sendiri, dan (4) membaca sendiri dengan suara keras.

Hasilnya, kelompok 4, subyek yang membaca sendiri dengan suara keras menunjukkan kemampuan mengingat dan kemampuan belajar paling tinggi ketika diteliti dua minggu setelah penelitian pertama.

Kenapa bisa demikian? Peneliti menyatakan bahwa kombinasi kerja mulut, pita suara, gendang telinga menghasilkan "tali" yang kuat untuk memasukkan infomasi ke dalam gudang memori. McLeod menyebutnya "words engagement".

Saya lalu ingat-ingat lagi teman saya di TPA, si Rus ini selalu menghafalkan surah dengan membacanya keras-keras saat belajar, juga saat perjalanan dari rumah ke masjid, saat jeda shalat, bahkan bergumam-gumam sendiri saat main kelereng.

Saya belum mengecek apakah otaknya benar encer, tapi yang jelas si Rus dengan piawai sudah menggunakan "production effect" untuk menghafalkan ayat Al-Quran, dan terbukti berhasil. Saya pun ingin mencobanya dong. Apa benar bisa berguna. Jadi saya coba beberapa hari yang lalu untuk menghafal ayat Quran, dan hei..it's work bro!

Jadi dari percobaan sederhana yang saya lakukan sendiri beberapa hari belakangan, Teknik mempertajam daya ingat ini bisa disederhanakan sebagai berikut :

Tentukan informasi apa yang ingin Anda simpan dalam ingatan
Tuliskan informasi tersebut
Baca sendiri informasi tersebut keras-keras (di depan kaca juga boleh)
Ulangi
Ulangi lagi, dari hasil percobaan saya minimal 15 kali atau lebih

Selamat mencoba…


Sumber : KOMPAS.com (Forrin, N. D., and MacLeod, C. M. (2017) This time it’s personal: the memory benefit of hearing oneself. Memory. DOI: 10.1080/09658211.1383434)

2/16/2018 , , ,
Ilustrasi (shutterstock)

BEBERAPA tahun lalu, ketika saya sedang belajar (lagi) ilmu psikologi, saya diberikan tanggung jawab mendampingi seorang anak. Sebut saja namanya Budi.

Budi baru saja naik kelas tiga SMA, tetapi nilai-nilai akademiknya terus merosot sejak kelas dua. Pak kepala sekolah menugaskan saya mencari tahu sebabnya dan beliau mengatakan, apakah memungkinkan membantu Budi mengembalikan prestasinya.

Sebab, waktu kelas satu, nilai akademiknya tidak jelek. Saya pun mulai mempelajari latar belakang keluarga dan akademiknya melalui berkas-berkas yang ada di sekolah mengenai Budi.

Informasi verbal juga berusaha saya dapatkan dari kepala sekolah, wali kelas, dan guru lain yang pernah berinteraksi dengan Budi. Selain itu, saya juga kontak orangtuanya yang ada di seberang pulau sekalian minta izin pendampingan.

Untung orangtuanya cukup terbuka dan malah mendesak saya membantu mengembalikan prestasi anaknya.

Informasi yang saya dapatkan cocok dengan informasi dari sekolah. Orangtua juga mengatakan, Budi berubah menjadi pendiam sejak kelas dua SMA. Padahal, tidak sampai 10 bulan lagi Budi dan teman-teman seangkatannya harus mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.

Saya katakan orangtuanya kooperatif karena saya pernah melakukan pendampingan anak lain dan mendapati orangtuanya cuek sama sekali atau yang lain malah curiga terhadap saya. Duh....

Sebagai catatan, pendampingan psikologi untuk anak yang efektif hanya bisa terjadi jika kedua orangtua kompak. 

Setelah lengkap, saya baru mulai berkenalan dengan Budi. Seperti biasa, awalnya kaku. Budi ragu-ragu. Kesan pertama saat ngobrol memang anak ini sangat-sangat tidak percaya diri. Namun, saya tidak memaksakan diri. Kata orang Jawa, witing tresna jalaran saka kulina. Kepercayaan akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Konselor tidak boleh terburu-buru. 

Hampir sebulan Budi hanya ngomong sedikit, lebih banyak saya yang ngobrol ke sana-kemari. Dari obrolan-obrolan singkat itu, saya mendapati bahwa Budi suka main gim, saya install di komputer (PC karena belum punya laptop) gim seperti milik Budi.

Komputer saya ngos-ngosan ketika di-install gim first person shooter (FPS) berat itu, tetapi tak apa-apa yang penting bisa jadi bahan obrolan. Baru bulan kedua saya “diizinkan” mampir ke kosnya untuk main gim.

Kamar kos Budi tidak berantakan, malah cenderung rapi dan bersih. Namun, yang saya perhatikan adalah laptop dan sound system-nya yang canggih. Saya ngiler lihatnya. Baru pada bulan kedua itu, obrolan kami mulai lebih cair.

Budi mulai agak banyak bicara. Saya juga kenalan dengan beberapa anak yang satu lantai dengan kosnya.

Berdasarkan informasi dari Budi sendiri dan dari teman-temannya satu lantai kos, rupanya sejak kelas dua, Budi yang tinggal di kos sebelah sekolahnya ini sering di-bully (rundung) kakak kelasnya, baik di sekolah maupun di kosnya, baik secara verbal maupun fisik.

Saya sengaja tidak menggali bagaimana detail perundungannya. Perundungnya sudah lulus dan tidak lagi tinggal di kosnya. Budi saat kelas satu berprestasi dan lumayan percaya diri. Namun, berubah drastis 180 derajat menjadi pendiam, pemurung, penyendiri, dan pesimistis berat. Hampir tidak punya teman sama sekali.

Hanya teman seberang kamarnya yang kadang dia ajak ngobrol. Sejak itu, Budi juga tidak pernah bisa fokus belajar, nilai pelajarannya jadi amburadul. Waktu terbanyaknya dia habiskan di kamar. Main gim, tetapi Budi tidak sampai kecanduan. Kalau dibiarkan terus, kondisi depresif Budi dapat dipastikan akan lebih parah.

Setelah informasi lengkap, saya juga sudah “kuasai” lingkungan sekolah dan kosnya, baru bulan kedua pertengahan saya bisa menjalankan terapi saya. Saya menggunakan teknik cognitive behavioral therapy (CBT), terapi yang fleksibel, bisa dibuat simpel, tetapi efektif dan yang penting tanpa efek samping.

Saya juga mengajaknya rutin fitness lagi karena dulu waktu kelas satu Budi ternyata pernah jadi anggota klub fitness. Saya temani dia gabung di klub fitness kampus saya, yang ongkos daftar agak murah maksud saya. Namun, baru beberapa minggu, dia minta pindah di klub fitness kampus sebelah yang lebih lengkap peralatannya.

Saya pun setuju, tapi sambil meringis karena harus merogoh kantong tipis saya lebih dalam. Tapi tidak apa-apa. Apa boleh buat. Tadinya seminggu beberapa kali bisa traktir calon istri makan siang agak lumayan, jadinya traktiran dan ngobrol di kantin kampus aja. Untungnya calon istri saya itu  juga adik kelas saya, santai aja.

Tapi yang saya surprise, Budi mulai ada inisiatif. Padahal terapi saya belum juga berjalan seminggu.

Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dipopulerkan oleh Albert Ellis, psikolog senior dari Universitas Columbia dan Aaron T. Beck, professor psikiatri dari Universitas Pennsylvania dengan mengambil konsep-konsep behavioral Albert Bandura dan konsep-konsep kognitif Alfred Adler.

Kita bisa googling nama-nama tersebut untuk tahu akar teorinya. Intinya dalam CBT ini adalah perilaku (behavior)itu dipengaruhi oleh perasaan (feeling), sedangkan perasaan dipengaruhi oleh pikiran/kognisi (thought).

Jadi dengan teknik tertentu, apabila kita bisa mempengaruhi pikiran maka pada gilirannya akan bisa mengubah perilaku kita.

Menurut Beck (2011) pikiran-pikiran kita secara umum selalu mengalami distorsi. Distorsi ini normal dan terjadi pada siapa saja. Tapi bisa jadi karena pengaruh lingkungan distorsi itu bisa berlebihan.

Pikiran yang terdistorsi berat biasanya muncul secara konstan dan terus menerus sehingga mengantarkan seseorang mengalami depresi.

Beberapa contoh distorsi diantaranya :
  1. Over-Generalizing : Misalnya, karena suatu hal kita gagal mencapai sesuatu. Kita menganggapnya kita orang yang akan selalu gagal, tidak pernah bisa berhasil. Atau seseorang sedih karena putus pacaran, lalu menyimpulkan bahwa kehilangan itu akan menghancurkan hidupnya selamanya. Atau sebaliknya
  2. Mind Reading : Kita merasa bisa memastikan pikiran orang. “Ah pasti dia pikir saya bodoh”..”Ah pasti dia menganggap saya menyakitinya”. Padahal tidak ada bukti sama sekali orang itu menyatakan demikian.
  3. Catastophizing : Selalu memikirkan hasil yang terburuk. Seseorang yang akan belajar menyetir mobil, merasa menyetir akan sangat membahayakan karena bisa kecelakaan. Seseorang yang akan memulai usaha, tapi takut akan kehilangan semua modalnya.
  4. Fortune Telling : hal ini seperti “aku tahu pasti, aku tidak akan bisa mengerjakan soal itu” tanpa berusaha untuk mencoba. Atau karena sudah menjadi ahli dan berpikir “Aku tahu aku pasti bisa mengerjakannya”, lalu menjadi lengah, meremehkan, tidak belajar lagi.

Dalam CBT ini, prosesnya saya coba simplifikasi jadi semoga bisa dipraktekkan siapa saja. Sebelum terapi dimulai harus ada persetujuan dari semua pihak, baik Budi sendiri, pihak sekolah, dan orangtua. Sehingga proses terapi bisa berjalan lancar.

Pendampingan psikologis akan lebih sulit dilakukan dan lebih lama mencapai tujuannya apabila ada satu pihak saja yang kurang setuju, atau tidak kooperatif. Lebih-lebih bila pendampingan psikologi dilakukan untuk anak.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan goals. Tentukan tujuan bersama. Menurut saya belum terlalu perlu membahas lebih banyak soal kasus bully dan detailnya karena memang sudah tidak terjadi.

Kita lebih banyak memandang masa lalu yang positif untuk maju ke depan. Lalu saya dan Budi menentukan tujuan utama proses terapi ini adalah lulus UM (Ujian Masuk) UGM.

Sejak kelas satu Budi suka dengan pelajaran matematika dan fisika, dia pun ingin masuk fakultas teknik. Awalnya Budi ragu, tapi saya ingatkan kalau sebenarnya dia bisa. Buktinya waktu kelas satu pernah ikut semacam kompetisi atau olimpiade ilmu eksakta.

Hal yang kedua adalah, dalam setiap sesi yang diadakan sekali seminggu atau dua minggu sekali tergantung kebutuhan. Tujuan utama tadi dipecah menjadi tujuan-tujuan kecil dengan penugasan sederhana di setiap sesi yang nanti akan dievaluasi pencapaiannya di sesi berikutnya. Misalnya, menambah satu teman baru di tempat les.

Pada sesi berikutnya saya tanyakan beberapa hal detail mengenai teman barunya, apakah Budi sudah tahu namanya, sekolahnya di mana, rumahnya di mana, berapa bersaudara, dll.

Setiap minggu akan selalu ada tugas baru yang bertujuan menambah kepercayaan diri, berinisiatif, dan memulai pembicaraan. Tugas ini akan saya gali kalau gagal terlaksana, apa sebabnya, dan akan diulang lagi pada penugasan minggu berikutnya.

Pada setiap sesi saya akan melakukan mood check, perasaan apa yang muncul dalam seminggu dan dalam skala brapa 1 sampai 10.

Hal yang ketiga adalah, seperti saya sampaikan di poin kedua. Gunakan flashcard. Apa itu? Itu semacam kartu skala emosi untuk mengidentifikasi perasaan dan perkembangannya.

Setiap emosi, seperti takut, cemas, marah, senang, bingung, dan lain-lain dibuat skalanya 1 sampai 10. Apa masalah-masalah yang muncul dalam penugasan, dan bagaimana mengatasinya.

Saya biasanya selalu mendorong Budi berpikir sendiri bagaimana solusinya dan membantunya memonitor hasilnya.

Hal yang keempat adalah tetap fokus. Dalam perjalanan terapi yang berlangsung beberapa bulan. Pasti selalu ada hal-hal lain yang mengganggu. Misalnya, karena sudah agak pede. Budi ingin "nembak" cewek, nah ini saya akan usahakan untuk ditunda dulu sampai tujuan-tujuan kecilnya tercapai, dan tujuan besarnya beres. Jangan sampai hal-hal di luar tujuan utama nanti merusak proses terapi.

Hal yang terakhir, selalu tanyakan feedback atau umpan balik mengenai proses terapi. Perasaan terpaksa untuk mengikuti terapi, misalnya karena ditanyain terus sama orangtuanya mengenai perkembangan nilai pelajaran lalu membuat Budi tertekan, penting untuk diidentifikasi.

Sehingga konselor bisa mengingatkan orangtuanya untuk lebih bersabar, tidak membuatnya under pressure. Sehingga perkembangan tidak lagi ditanyakan langsung, tapi lewat saya.

Total waktu yang saya butuhkan cukup lama, karena proses building  rapport atau proses “perkenalan” juga tidak mudah, itu saja berlangsung dua bulan. Proses terapi berlangsung selama hampir enam bulan dengan sesi seminggu sampai dua minggu sekali.

Waktu itu terapi sudah beberapa bulan selesai, saya juga sudah lama pamitan dengan kepala sekolahnya.

Baru nongkrong di kampus tiba – tiba masuk sms (waktu itu belum ada whatsapp) di hape jadul saya. Saya lihat pengirimnya, dari Budi. “Mas…Alhamdulillah, saya keterima di Teknik Mesin UGM. Terima kasih banyak mas…” Khas Budi, sms-nya pendek-pendek, to the point.

“Sama-sama Budi...,” saya balas smsnya pendek juga, lalu saya tutup hape saya dan berjalan sambil senyum2 sendiri. Bahagia itu sederhana…


Sumber : KOMPAS.com (Beck, J.S. (2011). Cognitive behavior therapy: Basics and beyond (2nd ed.). New York, NY: Guilford Press)

2/15/2018 ,
pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat 2018, di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Foto/Istimewa

Iringan tetabuhan rebana dan gendang bersahutan mengiringi empat siswa yang menyanyikan syair untuk  tarian yang dibawakan 10 orang siswa. 

Mereka tampil membawakan tarian rudat Lombok meramaikan pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas) 2018 yang berlangsung di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). 

Rakornas bertema SPM (Standar Pelayanan Minimal) PAUD dan Kesetaraan Memperkuat Pendidikan Nasional ini digelar untuk reguler 1 untuk wilayah timur. 

Sebagai panita pelaksana, Direktur Pembinaan PAUD Direktorat Jenderal PAUD dan Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Ella Yulaelawati menyampaikan rakornas digelar untuk sinkronisasi program dan kebijakan pusat dan daerah tahun 2018.

"Rakornas 2018 ini merupakan pelaksanaan perdana dari rangkaian kegiatan rakornas yang akan digelar tiga tempat. Bertujuan menyinkronkan program, kebijakan dan anggaran pusat dan daerah sehingga terwujud efisiensi dan efektivitas program PAUD dan pendidikan masyarakat tahun 2018 ini," tutur Ella, Senin 12 Februari 2018.

Rakornas PAUD dan Dikmas 2018 Reguler 1 untuk wilayah timur diikuti 242 peserta, terdiri atas kepala dinas pendidikan kabupaten/kota dan provinsi, kepala Balai PP PAUD dan Dikmas dari 11 provinsi, NTT, NTB, Bali, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. Digelar selama empat hari dari 12-15 Februari 2018 di hotel Grand Legi Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. 

Sementara reguler 2 untuk wilayah tengah akan digelar di Anyer, Banten pada 20-23 Februari dan reguler 3 untuk wilayah barat akan digelar di Banga Belitung pada 25-28 Februari.

"Rakornas ini digelar secara simultan, Februari ini selesai. Sehingga menjadi modal dan panduan pelaksanaan jajaran PAUD dan Dikmas seluruh Indonesia," tutur Ella.

Pada acara pembukaan yang diawali tarian rudat khas Lombok ini dilakukan juga penandatanganan komitmen peningkatan kinerja dan pengelolaan anggaran transaparan dan akuntabel Direktur Pembinaan PAUD\Direktur Pembinaan Kursus dan Pelatihan\serta seluruh Kepala BP PAUD dan Dikmas Wilayah Timur.


Sumber : SindoNews.com

2/11/2018 ,
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) khususnya Komisi X meminta pemerintah untuk bertanggung jawab atas minat baca masyarakat Indonesia yang sangat rendah. (Foto/Ilustrasi/SINDOnews)

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) khususnya Komisi X meminta pemerintah untuk bertanggung jawab atas minat baca masyarakat Indonesia yang sangat rendah.

Anggota Komisi X DPR Marlinda Irwanti menyatakan berdasar pada data UNESCO menyebutkan dari 1000 warga Indonesia, hanya satu orang saja yang memiliki minat untuk membaca.

Data itu menyimpulkan minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Rendahnya minat baca masyarakat ini tak boleh dibiarkan, melalui berbagai program, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

"Tidak sekadar memberikan tempat yang layak dan nyaman untuk bangunan perpustakaan yang dibangun, pemerintah juga memiliki tanggung jawab menambah koleksi bukunya," kata Marlinda dalam siaran pers, kemarin.

"Salah satu faktor yang membuat warga enggan ke perpustakaan karena koleksi bukunya yang kurang lengkap dan tidak update," imbuhnya.

Menurutnya, dari data UNESCO tersebut, terungkap bahwa dalam satu buku dibaca oleh lebih dari 15 ribu orang. Padahal idealnya, UNESCO menyebut hanya satu buku untuk dua orang. Hal ini juga menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah.

Marlinda juga menyebutkan, untuk meningkatkan minat baca dengan meningkatkan dan mengembangkan perpustakaan desa. Sehingga akses masyarakat untuk mendapatkan buku bacaan lebih mudah.

Pemerintah juga wajib membuka peluang komunitas-komunitas bahasa pecinta minat baca untuk ikut andil dalam kemajuan perpustakaan. "DPR akan mendorong Perpustakaan Nasional untuk membuat buku murah bermutu yang mudah dijangkau masyarakat," jelasnya.

Begitupun dengan Wakil Ketua Komisi X DPR Abdul Fikri Faqih menyatakan budaya gemar membaca merupakan bagian utama dari pembangunan sumber daya manusia. Menurutnya, pemerintah perlu memberikan perhatian serius dalam mendorong minat baca di masyarakat.

Berdasarkan data Central Connecticut University tahun 2016, Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara. Sementara,  kajian Perpusnas tahun 2016 menunjukkan bahwa tingkat budaya baca masyarakat pada kategori rendah dengan rata-rata 26,7.

"Taman Baca Masyarakat (TBM) sangat penting. Keberadaan TBM di tengah-tengah masyarakat menjadi upaya untuk mempermudah akses terhadap buku bagi masyarakat," tuturnya.

"Tetapi, yang kami temukan, TBM yang didirikan Kemendikbud tidak memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Baik dari buku, rak, dan fasilitas lainnya," tambahnya.

Dia juga menjelaskan,  untuk meningkatkan minat baca dari bawah diperlukan penguatan TBM, karena sarana tersebut menjadi ujung tombak bagi akses masyarakat terhadap buku.

"Perlu koordinasi antar kementerian dan lembaga yakni Perpusnas, Kemendikbud, Kemendesa dan Kemendagri, untuk membuat skema penguatan akses baca kepada masyarakat. Dengan koordinasi lintas kementerian tersebut, upaya menumbuhkan minat baca masyarakat dapat lebih serius tergarap dan angkat literasi masyarakat Indonesia menjadi lebih baik dalam beberapa tahun ke depan," jelasnya.


Sumber : SindoNews.com

2/08/2018 ,
Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2018 berlangsung 5 hingga 8 Februari 2018 di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pegawai Kemendikbud, Depok, Jawa Barat. (Dok. BKLM Kemendikbud)

Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2018 yang berlangsung 5 hingga 8 Februari 2018 merumuskan 22 rekomendasi dari lima isu strategis pendidikan dan kebudayaan.

Rekomendasi tersebut menjadi acuan bagi pemerintah pusat dan daerah serta komunitas pendidikan dan kebudayaan untuk bersama-sama menguatkan pendidikan dan memajukan kebudayaan, melalui komunikasi dua arah yang saling mendukung.

Lima isu strategis pendidikan dan kebudayaan yang menjadi pokok bahasan RNPK tahun ini adalah Ketersediaan, peningkatan profesionalisme, dan perlindungan serta penghargaan guru; pembiayaan pendidikan dan kebudayaan oleh pemerintah daerah; kebijakan revitalisasi pendidikan vokasi dan pembangunan ekonomi nasional; membangun pendidikan dan kebudayaan dari pinggiran; serta penguatan pendidikan karakter: sekolah sebagai model lingkungan kebudayaan.

Saat membuka RNPK 2018, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, mengajak para pelaku pendidikan, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah berkolaborasi meningkatkan pelayanan pendidikan. 

“Sekali lagi, Saya mengajak kita semua untuk tidak terjebak dalam rutinitas. Sudah bertahun-tahun kita berjalan rutin tanpa sebuah pembaharuan. Buatlah terobosan, anak-anak kita tidak boleh ketinggalan ilmu dan teknologi,” katanya di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pegawai Kemendikbud, Depok, Jawa Barat, Selasa (6/2/2018), sebagaimana siaran pers yang diterima Kompas.com.

Ia menegaskan teknologi harus digunakan untuk memperkaya dan memperkuat kearifan lokal. "Jangan sampai kita kehilangan akan budaya kita," ujarnya.

Pada hari ketiga, Wakil Presiden Jusuf Kalla memberikan arahan terkait beberapa program prioritas pemerintah di bidang pendidikan. Seperti, revitalisasi vokasi dan pendidikan karakter, yang erat kaitannya dengan revitalisasi peran guru dan ketersediaan guru.

Peserta Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNBK) 2018 di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pegawai Kemendikbud, Depok, Jawa Barat. Kegiatan berlangsung 5 hingga 8 Februari 2018. (Dok. BKLM Kemendikbud)

Kalla mengatakan pemerintah berencana untuk kembali memenuhi kebutuhan tenaga pendidikan. Rencana itu berdasarkan kajian dan koordinasi dengan berbagai pihak.

"Kita lihat lebih banyak guru yang pensiun, daripada yang diangkat. Karena itu, Saya sudah bicarakan dengan Presiden dan beliau setuju untuk mengangkat kekurangan guru yang puluhan ribu itu," katanya, Rabu (7/2/2018).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, meminta seluruh kepala dinas untuk aktif memperjuangkan alokasi anggaran fungsi pendidikan dan kebudayaan sebesar 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Hal itu, kata dia, sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar 1945.

Seorang Guru Garis Depan Sahril Anci bertugas di SMP Negeri Momi Waren Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. Ia merupakan satu di antara sekian banyak Guru Garis Depan angkatan pertama yang ditugaskan ke Papua Barat. (Dok. Sahril Anci)

Ia pun mengingatkan agar seluruh pegawai Kemendikbud dapat menjaga, meningkatkan kerja sama dan hubungan baik di antara unit-unit kerja yang ada. Selain itu, pegawai Kemendikbud mesti bisa menjaga hubungan baik dengan pemerintah daerah, baik tingkat kabupaten, kota, maupun provinsi.

“Supaya menghindari overlapping dan overloading. Saya kira hubungan konsultasi dan komunikasi harus selalu dilakukan dari masing-masing pihak,” kata Muhadjir.


Sumber : KOMPAS.com

2/03/2018 ,
Calon mahasiswa mencari informasi pendidikan tinggi dalam pameran pendidikan di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (2/2/2018) (KOMPAS.com/ KURNIASIH BUDI)

Berpendidikan tinggi tidak menjamin kamu bisa masuk dunia kerja. Persoalan mismatch atau ketidaksesuaian antara pendidikan dengan kebutuhan industri menjadi salah satu pangkal soalnya.

Menteri Tenaga Kerja Muhammad Hanif Dhakiri mengatakan, kompetensi yang tidak sesuai kebutuhan pasar kerja juga ikut menghambat.

Bahkan, sejumlah alumni penerima beasiswa pascasarjana Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) juga tak lepas dari persoalan itu. Selain tak sesuai kualifikasi, pengalaman kerja yang sama sekali tidak dimiliki juga menghambat lulusan kampus beken di luar negeri bisa masuk dunia kerja.

Saat Musyawarah Nasional Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABPPTSI) medio 2017, Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Ali Ghufron Mukti mengatakan, relevansi lulusan perguruan tinggi terhadap kebutuhan tenaga kerja menjadi faktor penting dalam upaya mencegah sarjana menganggur.

Salah satu kendala yang dihadapi calon mahasiswa saat memilih jurusan di perguruan tinggi adalah tidak memahami bidang pekerjaan secara mendalam. Maka tak jarang, pelajar salah pilih jurusan pendidikan tinggi.

Agar terjebak dalam masalah seperti itu, ada baiknya kamu mengenali potensi dan minat sebelum menentukan jurusan di perguruan tinggi.

Sejak lahir, manusia dikaruniai bakat dan potensi yang unik. Kecerdasan alami yang dimiliki manusia tak hanya satu aspek, melainkan ada beragam yang biasa disebut multiple intelegences (kecerdasan jamak). Di antaranya kecerdasan verbal, musikal, spasial, dan logika.

Perlu dicamkan, setiap profesi yang nantinya kamu jalani perlu ditunjang kualitas kepribadian tertentu. Untuk itu, kamu perlu tahu bagaimana kemampuan adaptasi, daya tahan terhadap stres, stabilitas emosi, tingkat ketelitian, kecepatan kerja, motivasi diri.

Mahasiswa Universitas Pertamina tengah melakukan uji coba di laboratorium (KOMPAS.com/ KURNIASIH BUDI)

Mengapa itu dibutuhkan? Ada sejumlah pekerjaan yang memerlukan pribadi dengan daya tahan stres, stabilitas emosi, dan kemampuan beradaptasi yang cukup baik. Misalnya, dokter.

Dalam menjalani profesinya, seorang dokter harus mampu mengelola emosi dengan baik dalam menghadapi pasien maupun keluarga pasien. Selain itu, dokter juga mesti bisa beradaptasi dengan cepat bila ditugaskan di daerah terpencil. Oleh karena itu, bukan hanya kecerdasan intelektual yang bisa menjadi modal agar kamu bisa berprofesi sebagai dokter.

Masih ada lagi yang perlu diperhatikan, yakni minat kamu. Seseorang bisa mengerjakan tugas apa pun dengan sepenuh hati dan semangat membara bila melakukan hal-hal yang diminatinya. Nah, kamu perlu tahu apa minat tertinggi hingga minat terendahmu, sebagai dasar menentukan jurusan di perguruan tinggi.

Peran orang tua sangat dibutuhkan agar kamu bisa mengenali potensi, minat, dan kepribadian. Orang tua merupakan orang terdekat yang mengetahui tumbuh kembang seorang anak sejak dalam kandungan hingga duduk di bangku sekolah.

Orang tua mendapingi calon mahasiswa dalam mencari jurusan di perguruan tinggi yang sesuai dengan minat dan bakat pada pameran pendidikan di Hotel Pullman Jakarta, Kamis (2/2/2018). (KOMPAS.com/ KURNIASIH BUDI)

“Perlu pendampingan orang tua untuk mengarahkan pilihan yang tepat, supaya bakat dan minatnya sesuai dengan jurusan yang akan dipilih,” kata Client Assistant Tes Bakat Indonesia, Listia Qisthy di Jakarta, Kamis (2/2/2018).

Lalu bagaimana tiga hal itu bisa dikenali?

Sejumlah lembaga konsultasi psikologi menyediakan fasilitas tes potensi, minat, dan kepribadian bagi pelajar yang akan meneruskan jenjang studi yang lebih tinggi.

Tes tertulis akan diberikan untuk pelajar yang ingin mengetahui potensi, minat, serta kepribadiannya. Ketika hasil tes telah tersedia, kamu bisa berkonsultasi dengan psikolog untuk bisa menggali informasi lebih detail.

Tes psikologi tersebut juga bisa membantu para pelajar dan orang tua untuk memastikan agar proses belajar akan sangat terfokus.

“Sebaiknya kalau hanya berminat tapi tidak berbakat, tidak perlu dipaksakan. Kalau pilihannya sesuai bakat dan minat, maka mereka tentu akan berprestasi dengan jurusan kuliah yang diambil,” ujarnya.


Sumber : KOMPAS.com

1/17/2018 ,
Ilustrasi e-Learning

Penetrasi internet di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat beberapa tahun belakangan ini. Hal tersebut diikuti dengan sejumlah tren positif antara lain peralihan sistem belajar offline ke online (e-Learning).

e-Learning diklaim memiliki sejumlah kelebihan bila dibandingkan dengan sistem belajar offline, di antaranya menghemat waktu belajar, biaya, serta lebih efektif.

Sebagai contoh kasus untuk bidang pendidikan Indonesia, menurut Anies Baswedan ketika menjabat menjadi Menteri Pendidikan, Indonesia memiliki lebih dari 50 juta siswa.

Laporan bertajuk "Indonesia Digital Education and E-Learning Market Outlook to 2018 – Rising Trend of Blended to Drive the Future Growth" memaparkan total pengeluaran untuk pendidikan digital di Indonesia telah berkembang dalam lima tahun terakhir.

Laporan itu juga menunjukkan ada peningkatan kolaborasi antara institusi pendidikan dan penyedia pendidikan digital guna melengkapi kelas mereka dengan fasilitas pendidikan digital.

"Lembaga pendidikan terkenal terkemuka di negara ini telah menjadi lebih reseptif terhadap penerapan komponen pembelajaran hi-tech," demikian penggalan isi laporan itu.

"Kemajuan-kemajuan teknologi di bidang pendidikan di Indonesia telah memberikan sejumlah manfaat bagi institusi pendidikan dan juga pelatih perusahaan seperti pelatihan multi-modal, tes online dan tutorial, video streaming langsung dengan fakultas pengajaran dan beberapa fasilitas lainnya," begitu bunyi lanjutannya.

E-Learning

E-Learning (Istimewa)

Namun demikian, di sistem pendidikan di Indonesia masih terdapat sejumlah hal yang perlu diselesaikan, termasuk permintaan kebutuhan akan keterampilan bahasa asing yang kian besar setiap tahunnya.

Di sini ed-tech startup Squline.com, platform pembelajaran online yang dibuat untuk menghubungkan siswa dengan guru bahasa asing profesional seperti bahasa Inggris, bahasa Mandarin, dan bahasa Jepang, mencoba untuk memenuhi kebutuhan tersebut.


"Squline.com menawarkan pendekatan pembelajaran bahasa baru dengan menghubungkan siswa dengan guru asli di seluruh dunia untuk berlatih dan meningkatkan kemampuan bahasa percakapan, kapanpun dan di manapun," ungkap Tomy Yunus CEO Squline.com kepada Tekno Liputan6.com.

Melalui Learning Management System (LMS), Squline.com menawarkan keleluasaan kepada pengguna. Mereka hanya perlu registrasi, memilih pengajar, dan memulai sesi belajar sesuai sesuai jadwal mereka.


"Kami percaya cara terbaik untuk belajar bahasa adalah belajar dari guru asing melalui interaksi dengan guru profesional sebanyak mungkin. Semua sesi belajar menggunakan teknologi One on One Live Video, serta menciptakan lingkungan terbaik untuk mengembangkan keterampilan mendengar dan lisan. Kami juga memberikan panduan pelajaran dan materi pembelajaran berdasarkan tingkat keahlian siswa," tutup Tommy. 


Sumber : Liputan6.com

11/25/2017 ,
Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Liputan6.com/Fatkhur Rozaq)

Upaya memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia, tidak selalu bergantung pada besaran anggaran yang dialokasikan pemerintah. Pasalnya, dengan anggaran yang relatif sama dengan Indonesia, peringkat kualitas pendidikan Vietnam berada jauh di atas Indonesia.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan, infrastruktur memang menjadi hal yang menjadi fokus di masa pemerintahan saat ini. Namun, pemerintah tetap mengutamakan bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Sebagai bukti, lanjut dia, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018, pemerintah mengalokasi anggaran sebesar Rp 440,9 triliun atau 20 persen dari total APBN.

"Di 2018 ada beberapa policy penting, fokus tetap investasi di infrastruktur dan SDM dan safety net, karena manusia yang utama di pemerintahan Presiden Jokowi. Oleh karena itu, investasi di bidang SDM seperti anggaran pendidikan 20 persen dan kesehatan 5 persen itu jadi penting," ujar dia di Jakarta, Jumat (24/11/2017).

Namun, kata Sri Mulyani, dari hasil yang telah dicapai di bidang pendidikan selama ini, besarnya anggaran yang dialokasikan pemerintah tidak serta-merta membuat kualitas pendidikan di Indonesia meningkat. 

Sebagai perbandingan, dengan alokasi anggaran yang sama, Vietnam mampu berada di peringkat 8 dalam kualitas pendidikan di dunia. Sedangkan Indonesia saat ini hanya berada di peringkat 58.

"World Bank mengatakan Indonesia sama seperti Vietnam yang commited di bidang pendidikan. Tapi peringkat Vietnam berada di posisi 8, sedangkan Indonesia di 58. Sama-sama punya komitmen tapi hasilnya beda. Ini menggambarkan fenomena mengenai education and health it's not only about money," kata dia.

Menurut dia, rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia, tidak lepas dari kinerja guru yang dinilai belum memiliki kompetensi. Padahal, ada sekitar 4 juta guru yang setiap tahunnya dibayar oleh pemerintah.

"Saya undang guru Indonesia bertemu dan mereka akan membuat platform supaya mutu guru bagus. Nanti di-tracking (ditelusuri) guru mana yang tidak kompeten," ungkap dia.

Kualitas Guru

Sementara itu, Head of Executive Board Tanoto Foundation, Sihol Aritonang menyatakan, jika berbicara soal pendidikan di Indonesia, maka tidak lepas dari kualitas guru yang ada. Kualitas guru menjadi salah satu penentu dalam upaya pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa.

"Baik buruknya kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh standar kualitas guru. Oleh karena itu, guru perlu meningkatkan kompetensinya seperti tercantum dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Ada empat kompetensi yang harus dipenuhi guru, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan kompetensi sosial," jelas dia.

Menurut Aritonang, dalam rangka turut membantu pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas guru, Tanoto Foundation secara berkelanjutan menjalankan salah satu programnya yakni Pelita Guru Mandiri untuk meningkatkan mutu guru-guru di Indonesia.

Dia menjelaskan, program Pelita Guru Mandiri diarahkan untuk demi membantu pemenuhan kompetensi guru bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk peningkatan proses pembelajaran, pengembangan guru, serta perbaikan fasilitas belajar-mengajar. 

"Permasalahan utama yang dialami sekolah-sekolah di Indonesia selain soal kesenjangan dalam kompetensi guru, juga terkait dengan penyampaian pembelajaran yang kurang efektif dan fasilitas sekolah yang tidak memadai," kata dia.

Menyikapi masalah tersebut, lanjut dia, dibutuhkan intervensi holistik yang dirancang untuk menyelesaikannya. Hal ini kemudian diwujudkan dalam kerangka besar melalui program Pelita Pendidikan yang hingga saat ini telah mendukung pembelajaran berkualitas di 518 sekolah, menjangkau 43.000 siswa dan lebih dari 5.100 guru.

"Harapannya melalui program Pelita Guru Mandiri, lahir dan hadir guru-guru yang kreatif, inovatif, dan inspiratif sehingga ruang-ruang kelas menjadi sarana terbaik melahirnya generasi berkualitas yang siap menjadikan bangsa kita menjadi negara maju di masa depan," tandas dia.


Sumber : Liputan6.com

10/16/2017 ,
Desa Kinderdijk, desa kincir angin di Belanda. (NOVA DIEN)

Secara harfiah, menuntut ilmu kini tak sebatas ke Negeri China yang notabene masih berada dalam zona benua Asia, tetapi semakin meluas hingga ke benua Eropa, misalnya saja Belanda.

Negara yang berada di wilayah barat laut benua Eropa ini memang menjadi tujuan studi favorit bagi para pelajar dunia. Lembaga nonprofit di bidang pendidikan tinggi Belanda, Nuffic Neso Indonesia, bahkan menyebut bahwa 1 dari 10 siswa di Belanda adalah mahasiswa internasional.

Belanda tercatat memiliki lebih dari 112.000 mahasiswa internasional. Dari jumlah ini, sekitar 1.600 di antaranya adalah mahasiswa asal Indonesia. Jadi, apa yang membuat mahasiswa kepincut dengan Negeri Kincir Angin tersebut? Berikut ulasannya.

Holland Scholarship juga mendukung 768 mahasiswa Belanda untuk mendapatkan bantuan biaya untuk kuliah, magang atau melakukan riset di negara di luar area Ekonomi Eropa selama minimal tiga bulan. (www.shutterstock.com)

1. Program internasional

Universitas-universitas di Belanda menawarkan program berbahasa Inggris yang terbesar di benua Eropa, yakni sekitar 2.100 program. Tentu hal ini menjadi kemudahan sendiri bagi mahasiswa asing. Mereka tidak diwajibkan untuk bisa berbahasa Belanda.

Tak hanya itu, 95 persen dari penduduk Belanda rupanya telah mahir berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Hal ini tentu akan membuat pelajar internasional, termasuk pelajar Indonesia, mudah membaur dengan masyarakat lokal.

2. Pendidikan berkualitas

Kualitas institusi pendidikan Belanda telah diakui dunia. Sebab, pendidikan dan keterampilan yang baik merupakan syarat penting untuk mencari pekerjaan di negara ini.

Menurut OECD Better Life Index, Belanda mendapat angka yang cukup tinggi di atas rata-rata dalam hal pendidikan dan keterampilan ini.

Sistem pengajaran di Belanda bersifat interaktif dan berpusat pada siswa. Mahasiswa tak perlu ragu untuk mengutarakan pendapat dan berpikiran terbuka.

Mereka juga akan dibimbing untuk dapat mengembangkan keterampilan yang sangat berharga, seperti menganalisis, memecahkan masalah praktis, dan berpikir kreatif.

Para pelajar belanda belajar bersama saat berkunjung ke sejumlah wilayah di Indonesia di SMA Negeri 2 Kota Tangerang, Senin (31/7/2017). Dalam kunjungan tersebut sebanyak 36 pelajar tingkat SMA, 6 guru dan 1 orang Dokter dari belanda diperkenalkan budaya dan lingkungan di Indonesia. (KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI)

Di sisi lain, biaya kuliah dan biaya hidup di Belanda juga tergolong lebih rendah daripada negara-negara berbahasa Inggris lainnya.

Ditambah lagi, ada begitu banyak beasiswa yang ditawarkan oleh Pemerintah Belanda, seperti Studeren in Nederland, Netherlands Fellowship Programme, juga Orange Tulip Scholarship.

3. Komunitas internasional

Seperti disebutkan sebelumnya, Belanda memiliki lebih dari 112.000 mahasiswa internasional. Mereka berasal dari 190 negara berbeda.

Artinya, saat menuntut ilmu dan menetap di Belanda, mahasiswa akan berinteraksi dengan masyarakat global, saling bertukar pikiran, serta mempelajari kebudayaan dari berbagai negara.

Para penerima Beasiswa StuNed 2017 mendapat arahan tentang kehidupan pelajar di Belanda saat Welcoming Session, di Conclave, Jakarta Selatan, Sabtu 17 Juni 2017. (Auzi Amazia/KOMPAS.com)

4. Negara yang aman dan bahagia

Menurut indeks Global Peace 2016, Belanda masuk ke dalam daftar 25 negara teraman di dunia. Tak hanya aman dari tindak kriminalitas, Belanda juga memiliki keamanan tinggi dalam sistem transportasi.

Maka tak heran, Direktur Nuffic Neso Indonesia, Peter van Tuijl, menyarankan agar para pelajar Indonesia mencoba sepeda sebagai alat transportasi saat di Belanda. Selain cepat, sehat, dan murah, bersepeda juga menjadi praktik nyata untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

Di sisi lain, Belanda berada pada posisi enam dalam daftar negara paling bahagia versi World Happiness Report 2017. Memang, secara umum, masyarakat Belanda mengaku puas dengan kehidupan mereka.

Ketika diminta untuk menilai kepuasan umum mereka terhadap kehidupan dalam skala dari 0 sampai 10, orang-orang Belanda memberi nilai 7,3.

Bersepeda di Amsterdam, Belanda. Kota ini kabarnya memiliki 800.000-an sepeda. Amsterdam memang terkenal dengan sepeda. Saking banyaknya, perusahaan jasa transportasi sepeda bernama Yellow Bike mengeluarkan ide baru berkeliling Amsterdam, yang disebut Backie. (NOVA DIEN)

5. Jelajah Eropa

Menempuh studi di Belanda akan memberi kesempatan untuk menjelajah daratan Eropa. Hanya dalam tiga jam, kita sudah bisa berfoto di Menara Eiffel, yang menjadi ikon kota Paris.

Sementara itu, perjalanan pergi-pulang menuju London dan Berlin hanya menghabiskan lima sampai enam jam dengan berkereta.

Bunga tulip di Almere, Belanda. Berbeda dengan Amsterdam, kota di Provinsi Flevoland ini masih terasa sejuk dan sepi dari pendatang maupun wisatawan. (NOVA DIEN)

6. Berkarier di kancah internasional

Belanda merupakan negara dengan perekonomian terbesar ke-18 di dunia. Beberapa perusahaan multinasional besar, termasuk Philips, Shell, dan Unilever, berasal dari Belanda.

Nah, guna menjajal bagaimana berkarier di negara tersebut, Pemerintah Belanda memberikan kesempatan kepada mahasiswa internasional untuk mengaplikasikan keterampilan dan pengetahuan yang mereka dapat selama kuliah.

Mahasiswa internasional yang telah lulus dari masa studi dapat mengajukan permohonan izin tinggal selama satu tahun untuk mencari pekerjaan atau memulai bisnis di sana.

Para pelajar Indonesia penerima beasiswa Studeren in Nederland (StuNed) di Belanda menggagas forum diskusi In the Footstep of Hatta: How to Build Global Competitiveness. Diskusi digelar pada acara tahunan StuNed Day di KBRI Den Haag, Belanda, Sabtu (19/3/2016). (Dok Nuffic Neso Indonesia)

Masih ada begitu banyak informasi tentang bagaimana serunya kuliah di Belanda yang akan dikupas pada Deutch Placement Day 2017 (DPD 2017). Acara ini akan digelar di dua kota, yakni Surabaya pada Senin, 30 Oktober 2017 dan Jakarta pada Jumat, 3 November 2017.

Dalam pameran pendidikan ini, para calon mahasiswa bisa memperoleh informasi mengenai berbagai beasiswa untuk studi di Belanda, menjajal IELTS Prediction Test, serta mengikuti seminar menulis Motivation Statement.

Menariknya, dalam one-on-one session, pengunjung dapat bertatap muka langsung dengan perwakilan universitas di Belanda, tentu dengan perjanjian terlebih dahulu.

Untuk informasi lebih lebih lengkap tentang Deutch Placement Day 2017, Anda bisa mengunjungi laman nesoindonesia.or.id/dpd2017.

Tunggu apa lagi? Yuk tuntut ilmu sampai ke Negeri Belanda!


Sumber : KOMPAS.com

SMA YAPIP MAKASSAR SUNGGUMINASA

{facebook#https://www.facebook.com/100012173117216} {twitter#https://twitter.com/schoolyapip/} {google-plus#https://plus.google.com/u/0/110901565791389610503} {pinterest#https://id.pinterest.com/mkssungguminasa/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UC-S_QsY5fXShgK_uu5-ezzw} {instagram#https://id.instagram.com/}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget